SI Kabayan suatu ketika diajak rekannya ke arena cabang olah
raga golf di Jatinangor. Asep Surasep, rekannya tersebut memang mempunyai minat
khusus kepada olahraga golf. “Kita jangan ketinggalan sama para pejabat dan
pengusaha, Brow,” ujarnya ketika mengajak Si Kabayan ke Jatinangor. Kebetulan
Si Kabayan juga ingin tahu olahraga tersebut.
Akhirnya, keduanya sampailah di arena golf yang luas di
Jatinangor yang saat itu akan berlangsung pertandingan golf PON 19. Si Kabayan
langsung terpesona begitu melihat atlitnya mulai mengayunkan stik kemudian
memukul bola sejauh mungkin di tempat
yang kata Asep Surasep dinamakan teeing
ground.
“Nah setelah dipukul di teeing
ground, bola harus dipukul lagi setelah mendarat di fairway ataupun di rough,”
Asep menerangkan. Ia ketika itu mengira, Si Kabayan masih ada di sampingnya.
“Bolanya harus terus dipukul, Brow, hingga masuk ke lubang
alias hole atawa cup,” ujarnya lagi sambil melirik Si Kabayan yang ternyata sudah
tidak ada di sampingnya. Tapi Asep Surasep tidak berusaha mencari rekannya,
karena yakin Si Kabayan pasti ada di kerumunan penonton.
Beberapa menit kemudian, ada kehebohan di tempat jatuhnya
bola pertama. Saat itu, beberapa atlit tak bisa menemukan bola yang dipukulnya
keras-keras tadi. “Bolanya hilang! Bolanya tidak ada! Gimana ini?” Begitu
teriak para atlit dan timnya.
Asep heran bukan kepalang. Belum hilang rasa herannya,
tibat-tiba Si Kabayan ngurunyung (datang-Red)
sambil haruhah- harehoh, kecapaian.
“Saya ambil tiga bola nih, Brow. Sayang hilang di rumput teu puguh mah. Lumayan untuk oleh-oleh Si Ujang,” kata Si Kabayan.
Si Ujang adalah anak semata wayangnya yang masih duduk di bangku sekolah dasar
kelas satu.
Asep Surasep hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat
ulah rekannya. Khawatir terjadi sesuatu, ia segera menyeret Si Kabayan, lalu
menjelaskan soal permainan orang berduit tersebut. ***

0 komentar:
Posting Komentar